Kenapa Harus Terus Berkarya ? Buat Saya Anugerah Dari Tuhan Yang Tanpa Nilai Ketika Manusia Selalu Menciptakan Karya Jadi Jangan Sia – Sia Kan Kelebihan Ini Sampai Usia Kita Selesai Dan Mati, Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Karya.

Untuk Melakukan Praktek Totalitas Dalam Berkarya Saya Selalu Menggunakan Masker Seperti Layaknya Karakter MATA HATI Yang Saya Ciptakan, Meng-Arti-Kan nya Begini ; Manusia Hidup Meninggalkan Kebaikan Lewat Karya Nyata Saja, Bukan Siapa Dan Dari Mana Kamu Hadir Ketika Menciptakan Karya, Semacam Filosopi Berkarya Harus Ikhlas Tanpa Pamrih (Memberi Kebaikan Lalu Menghilang Tanpa Diingatnya Kembali) Kelak Akan Menjadi Diri Sendiri Yang Sejati Yang Berpengaruh Pada Kemerdekaan Hak Menciptakan Karya.

Saya Mulai Melakukan Aktifitas Bermural Atau Melukis Dinding Sudah Sejak Tahun 1990 Saat Masih Smp Sampai Tahun 1998 Di Era Reformasi Mulai Memasuki Awal Kuliah, Tapi Mungkin Saat itu Kata Mural Belum Familiar Dan Pegiat Seni Jalananpun Belum Banyak Seperti Tahun 2019 ini Yang Semakin Menyebar Ditiap Kota Sehingga Menjadi Fashion Anak Muda Era Milenial Jaman Now.

Pada Awal Tahun 1999 Saya Menciptakan MATA HATI Atau JIWA Atau NURANI Yang Saya Tambah Dengan Ornamen Ornamen Disekitarnya Juga Hasil Imajiner Sendiri Seperti Tangan, Kaki, Alat Vital Yang Melemah, Perputaran Arus Air Demikian, Selebihnya Motif Improvisasi Saja Saat Performance.

Motif Atau Ornamen Yang Saya Ciptakanpun Sangat Sederhana Sesuai Keseharian Kehidupan Manusia Versi Saya Pribadi Tentunya, Seperti : Mata Hati (Jiwa Atau Nurani Atau Mata Bathin), Kaki (Mengartikan Pergerakan Langkah Menuju Suatu Tujuan), Tangan (Mengartikan Kreatifitas Manfaat) Saya Mempersingkatnya Menjadi Kalimat MAHAKATA, Sedangkan Hiasan Lainnya Adalah Motif Atau Ornamen Tambahan Sebagai Pelengkap Keseluruhan Karya Mural Diantaranya Saya Membuat Simbol Perputaran Yang Melingkar (Mengartikan Bahwa Roda Kehidupan Selalu Berputar), Juga Ada Simbol Kemaluan Lelaki Yang Impoten Atau Lemah Syahwat Atau Tidak Bergairah (Mengartikan Jangan Melemah Atau Jangan Hilang Semangat), Lalu Ada Segitiga (Menuju Kepuncak) Dan Bulatan Bertumpuk (Pergulatan Persoalan Yang Saling Mengejar). Biasanya Di Akhir Finishing Saya Akan Membuatkan Latar Belakang Seperti Potongan Kertas Digunting Yang Seolah Menempel Kedinding.

Gaya Atau Style Karya Mural Saya Banyak Yang Bilang Bahwa ini Dekoratif Doodle, Ada Juga Yang Bilang Pop Art Doodle, Tapi Menurut Saya Bahwa Karya Mural Yang Saya Ciptakan Adalah Gaya Semau Gue / Ala Gus Bill / Jadi Diri Sendiri Tanpa Mengikuti Jejak Dari Siapapun Seniman Pendahulu, Saya Menyebutnya Mural Mata Hati. Melalui Mural Saya Bisa Merasakan Totalitas Dan Sensasi Berbeda Dari Sekedar Mengharap Penilaian Sempurna, Buat Saya Manusia Tidak Ada Yang Sempurna.

Dalam Berproses Pengerjaan Mural Biasanya Tidak Selalu Direncanakan Ada Juga Yang Spontanitas Bahkan Sangat Tiba Tiba ide Muncul Ketika Dimana Saja Biasanya Akan Ditindaklanjutkan Jika Mood Juga Mendukung Tentunya, Kadang ide Muncul Tapi Mood Tidak Datang Bisa Tertunda Eksekusinya, Mood Ada Tapi ide Belum Ada Tertunda Juga, ide Dan Mood Ada Amunisi Tidak Ada Sama Tertundanya Juga, Hahaha…

Yang Menarik Saya Mulai Menggunakan Cat Semprot Saat Melakukan Touring Street Art Yang Dalam Bahasa Jawa Plesiran itu Berawal Di Kota Blitar Jawa Timur Saat Dimana Tengah Malam Dan Hujan Kawan Lain Telah Menyelesaikan Karyanya Dengan Cat Semprot Dan Saya Belum Karena Menggunakan Cat Tembok Acrylik, Hingga Akhirnya Seorang Kawan Meminjamkan Caps Agar Saya Menyelesaikan Dengan Canspray Dan Setelah itu Selesai Dikota Berikutnya Mojokerto Dan Surabaya Masih Di Jawa Timur Hingga Jogyakarta Dan Cilacap Jawa Tengah, Saya Sudah Menggunakan Capspray Cat Semprot.

Untuk Masa Depan Saya Akan Terus Menciptakan Karya Mural Baru, Sampai Ujung Usia Jika Ditakdirkan Sehat Oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Kehidupan. Saya Ingin Memiliki Studio Pribadi Yang Akan Menjadi Semacam Ruang Ibadah Rileksasi Rasa, Terminal ide, Gudang Alat Berkarya, Bahkan Sekaligus Tempat Penumpahan Progress Yang Harus Disalurkan Segera Dalam Bentuk Sketsa Mungkin, Pembuatan Patung, Atau Karya Lainnya Yang Tidak Harus Dijalanan. Dan Juga Gallery Sendiri, Serta Jika Tuhan Menghendaki Niat Dan Doa Saya Didengarnya Saya Ingin Memiliki Sekolah Senirupa Yang Khusus Digratiskan Untuk Para Kaum Kreatif Pemilik Hobi Dan Bakat Dari Kalangan Fakir Miskin Dan Tidak Mampu Secara Ekonominya.

Cita Cita Sekuat Tenaga Akan Saya Kejar Dan Nyatakan, Jika Nanti Hasilnya Nihil Paling Tidak Usaha Kearah Sana Sudah Saya Lakukan Dan Tidak Berdiam Diri. Contoh Nyata Yang Telah Saya Lakukan Adalah Perkenalan Dengan Berbagai Pihak Potensial Seperti Pengusaha Yang Notabene Respek Terhadap Karya Seni Yang Saya Ciptakan Selama ini, Mereka Juga Telah Menjadi Kolektor Bagi Karya Saya. Terhadap Anak Anak Kreatif Yang Memiliki Keterampilan Senirupa Sudah Saya Coba Arahkan Tapi Sifat Masyarakat Ini Sangat Majemuk Dan Berbeda Beda Cara Pandang Dan Pikirannya Akhirnya Waktu Berjalan Mulai Terlihat Mereka Yang Totalitas Karena Bakat Tapi Mentok Karena Kebutuhan Ekonominya Akhirnya Berkerja Dibidang Lain Tuntutan Hidup, itu Semua Yang Mendorong Semangat Saya Agar Bisa Menghadirkan Sekolah Senirupa Gratis Buat Anak Anak Miskin Berbakat Dan Potensial Menjadi Pegiat Seni Mendatang.

Panutan Semangat Dalam Berkarya Saya Dari Indonesia Saya Menyukai Seniman Besar Affandi Yang Dengan Kesederhanaanya Mampu Menciptakan Karya Hebat Dan Luar Biasa Dan Juga Seniman Amang Rahman Beliau Sangat Dalam Disetiap Karya Serta Begitu Menjiwai Karya Ciptaanya Yang Syarat Akan Makna Yang Dalam Dan Tinggi, Sedangkan Seniman Dunia Saya Sangat Terinspirasi Jhon Paul Pollock Dengan Abstrak Ekspresionisnya Yang Tajam Dan Sangat Berbobot Juga Seniman Basquiat Yang Berkarya Tanpa Batasan Etika Seperti Bebas Hambatan Tanpa Beban Tapi Tetap Bisa Fokus Pada Tujuan Sejatinya Yaitu Jadi Diri Sendiri.

Bagi Saya Seorang Seniman Yang Sudah Mulai Menciptakan Karya Seni Abstrak Adalah Sudah Pada Puncak Kesenirupaannya Yang Tinggi, Sebab Menurut Penilaian Saya Abstrak itu Luhur, Niscaya, Ganjil, Tinggi, Suci, Abadi, Tanpa Kasat Mata Lagi, Tapi Penglihatan Mata Jiwa Sebenarnya, Yang Telah Melewati Proses Panjang Dalam Berkarya Senirupa, Sudah Menghabiskan Level level Realis Dan Bentuk Riilnya, Tahapan Abstrak Adalah Tahapan Suhu Tahapan Tertinggi.